Coron yang Ramah

Kayangan Lake
Oleh: Windy Ariestanty (@windy_ariestanty)

Langit petang itu berwarna merah pastel. Matahari terbenam tak terlalu mentereng warnanya karena tertutup awan kelabu. Belakangan, katanya, hujan sering tiba-tiba turun di Coron, salah satu kepulauan di Palawan, Filipina ini.  “2013, ketika topan melanda Coron, patung salib itu amblas, terbalik,” kata Jojo, pemandu lokal yang menemani selama menjelajah Coron, sambil menunjuk salib raksasa berselimutkan kerlip lampu dan tulisan ‘Coron’ di bagian bawah yang berada di puncak Gunung Tapyas.

Gunung Tapyas pada malam hari (Foto: @AriAmphibia)
Gunung Tapyas pada malam hari (Foto: @AriAmphibia)

Gunung Tapyas adalah puncak kedua tertinggi di Coron. Ia terletak di Coron City, sebuah kota bekas desa nelayan yang terdapat di Pulau Busuanga. Begitu memasuki pusat kota Coron, puncak Gunung Tapyas dan salib terlihat menjulang, seolah menjadi tengara kota.

Pemandangan langit di atas gunung Tapyas (Foto: @AriAmphibia)
Pemandangan langit di atas gunung Tapyas (Foto: @AriAmphibia)

‘Orang-orang datang ke Coron karena pantai-pantai berpasir putihnya,’ kata Jojo. Saya sedang berdiri di depan sebuah toko oleh-oleh, membaca selebaran yang menempel di dinding tentang sebuah tur dengan helikopter. ‘Mereka melihatnya pakai helikopter?’ tanya saya naif. Jojo membesarkan mata lalu menyimak apa yang dari tadi menarik perhatian saya. ‘Oh, tidak! Tidak! Itu lain lagi!’ Jojo menukas buru-buru karena melihat saya bersemangat. Tur helikopter banyak ditawarkan untuk melihat landskap aerial Kepulauan Coron. Dari atas, cerita Jojo, kita bisa melihat sebaran gugusan karst gamping dan pulau-pulau Coron yang berserakan di bentangan samudra biru-kehijauan.

‘Tapi kalau kamu punya drone, sepertinya menerbangkan drone lebih murah daripada ikut tur helikopter,’ kelakar Jojo. Saya tertawa-tawa sambil mencamil penganan ringan Filipina yang jadi favorit semua orang—Nova rasa jalapeno. ‘Kita besok akan melakukan island hopping, mendatangi pantai dengan pasir-pasir putih.’ Jojo terus berceloteh mempromosikan Coron. ‘Kalian tidak bakal menyesal. Aku janji membawa kalian melihat Coron dengan cara berbeda.’ Jojo bersungguh-sungguh mengucapkan itu. Ia sudah lima tahun lebih jadi pemandu dan tahu betul seluk beluk Coron.

Keindahan pasir putih di Malcapuya Island, Coron (Foto: @AriAmphibia)
Keindahan pasir putih di Malcapuya Island, Coron (Foto: @AriAmphibia)

Saya baru pertama kali ini ke Filipina. Mungkin karena nama Coron terdengar aneh di telinga, maka saya tergerak mengiyakan undangan dari Philippine Department of Tourism. Saya tidak tahu terlalu banyak tentang Coron. Namun, mendengar betapa semangatnya Jojo bercerita, saya pikir itu pertanda yang baik. Mau di mana saja, sebenarnya, orang-orang di sebuah tempatlah yang membuat pengalaman kian berkesan. Dan Coron, sejak hari pertama kedatangan saya, telah memberikan kesan itu.

Orang-orang di Coron mudah sekali menyapa dan melontarkan lelucon. Pernah satu pagi, sebelum island hopping, saya bermain ke pasar tradisonal bersama beberapa kawan. Tali sandal jepit kawan saya terlepas dari lubangnya. Setengah mati ia berusaha memperbaiki dan tidak kunjung bisa. Seorang penjual sandal karet snorkeling dan dry bag rupanya melihat kesulitan kawan saya. Ia mendekat, mengambil sandal itu, dan tak sampai 30 detik, tali telah terpasang di tempatnya. Ia tertawa-tawa melihat ekspresi kami. Ia bertanya dari mana asal kami dan ketika Indonesia disebut, ia tanpa diminta memberi tahu di mana masjid di Kota Coron berada. Dari dia pula saya tahu bahwa di Coron, selain Kristen Katolik, sebagian penduduknya juga menganut Islam.

Hampir semua pemandu, kapten, dan awak kapal kami selama island hopping pun pandai melawak. Pada hari pertama, Nash membeberkan rute island hopping. ‘Siapa pun yang melakukan tur pulau denganku tahu kalau aku selalu menyiapkan yang terbaik justru belakangan. Tapi, kalian akan tahu dari awal semuanya adalah yang terbaik di Coron!’  Hari itu, kami berangkat pagi sekali. Jojo dan Nash menghibur kami yang terkantuk-kantuk dengan janji bahwa berkurangnya jam tidur akan dibayar sepadan dengan apa yang akan kami alami. Hari itu disebut ‘The Ultimate Tour of Coron’ oleh Nash. Kami akan mengunjungi Twin Lagoon, Coral Garden Skeleton Wreck, CYC Beach (singkatan dari The Coron Youth Club), Atwayan Beach, dan sang primadona Coron—Kayangan Lake.

Destinasi pertama adalah Twin Lagoon. Kata Nash, Laguna Kembar ini ia jadikan destinasi pertama karena itulah waktu terbaik untuk menikmati laguna unik ini.

‘Duduk di sini.’ Lelaki berambut gondrong yang pandai bercerita dan berjoget itu menowel pundak saya. ia menunjuk ke arah lambung kapal. Di bagian luar, pada sisi kanan-kiri yang tersambung cadik kapal, ada selasar kayu yang menjadi tempat hilir mudik awak ke haluan dan buritan kapal tanpa harus mengganggu para tamu yang duduk di dalam. ‘Kamu bisa melihat pemandangan dengan lebih bebas dari sini,’ katanya sambil menepi, memberi saya jalan untuk lewat. Nash meminta saya memasang mata karena sebentar lagi, setelah kapal melewati gugusan karst yang seolah menjadi gerbang masuk, di sanalah ‘surga’ Coron berada—Laguna Kembar yang menjadi pertemuan air asin dan air tawar.

Laguna Kembar atau Twin Lagoon (Foto: Ari Amphibia)
Laguna Kembar atau Twin Lagoon (Foto: Ari Amphibia)

Nash dan Jojo punya alasan sendiri berbangga dengan Coron. Di titik yang ia tunjuk, saya melihat laguna berwarna biru kehijauan, berkilauan seperti zamrud tertimpa cahaya. Formasi tebing-tebing batu gamping berwarna hitam kehijauan tanpa putus menjadi pemisah antara dua laguna. Laguna pertama menjadi tempat kapal-kapal melemparkan jangkar—docking. Menjelang tengah hari, laguna pertama akan sangat padat. Inilah alasan Nash mengajak kami berangkat sangat pagi, menghindari kepadatan kapal dan pengunjung. Namun, pagi itu, seperti yang dijanjikannya, Laguna Kembar masih sepi. Hanya ada dua kapal yang telah lebih dulu melempar jangkar dan beberapa gelintir manusia yang berenang menuju ke sebuah ceruk di tebing. Rupanya itulah pintu masuk menuju laguna kedua.

Saya berdiri diam-diam mengamati itu semua. Kabut tipis pelan-pelan mengangkasa, membuat sinar matahari masuk dengan leluasa dan meninggalkan warna kekuningan di pepohonan yang menutupi tebing. ‘Nah, kami tidak bohong, kan?’ Nash tersenyum lebar. Satu per satu kawan-kawan saya di kapal mengikuti jejak orang-orang yang sudah datang lebih dulu, berenang; menikmati sensasi bertemunya air asin dan air tawar. ‘Atasnya dingin, bawahnya hangat.’ Jojo menerangkan sambil memasang yapak, fin tradisional terbuat dari fiberglass. Jojo, sebagai anak pulau, mengaku tak nyaman berenang dan menyelam bila menggunakan fin ‘biasa’ yang digunakan para penyelam. ‘I can’t use that common fin. Yapak is the best for me! Aku bisa menyelam dalam hanya dengan ini,’ katanya bangga. Ia pun menceburkan dirinya ke laguna dan meminta saya mengamati pergerakan air. Air beriak terlihat pekat dan lekat, lalu lambat laun hijau jernihnya menjadi buram lantas kembali bening. Nash dan Francis—kapten kapal kami hari itu—tertawa-tawa melihat saya menjulurkan badan untuk melihat hingga sedalam apa Jojo menyelam hanya dengan menggunakan yapak. Nash sendiri juga bisa menyelam tanpa bantuan alat apa pun serta melakukan atraksi-atraksi yang membuat kami melongo. Ia juga pandai memotret di bawah air sana. Ketika melihat mereka, saya teringat kepada Suku Bajau, yang ada di Sulawesi. Suku laut yang dijuluki gispi laut (sea gypsies) karena nomadik dan menjadikan laut sebagai rumah ini tersebar di Filpina, Malaysia, dan juga Brunei.

Pemandu wisata kami melakukan freediving dan atraksi di bawah laut (Foto: @AriAmphibia)
Pemandu wisata kami melakukan freediving dan atraksi di bawah laut (Foto: @AriAmphibia)

‘Apakah Coron pernah sepi?’

‘Coron hanya sepi ketika dihantam angin topan besar yang memporakporandakan kota,’ jawab Nash menahan geli. Ia rupanya terkenang kepada sebuah peristiwa lucu. Saking seringnya mengalami sapuan angin topan, masyarakat Coron menganggap hal itu biasa. Hingga, pada November 2013, Nash dan kawan-kawan yang duduk-duduk ngebir lari tunggang-langgang. Hari itu ada topan, tetapi mereka santai-santai saja. Bukan hal yang harus dikhawatirkan. Hingga kemudian mereka menyaksikan angin yang menggulung-gulung dan menerbangkan benda-benda seiisi kota kecil ini. Mereka berlari masuk ke rumah mencari perlindungan. Dinding rumah dan jendela berderak-derak. Suara hantaman tanpa putus membuat mereka mencoba mengintip dari celah jendela. Kata Nash, kapal-kapal di laut tertarik, benda-benda di luar sana beterbangan. ‘Saat itu kami tahu, ini topan yang besar.’  Inilah angin topan yang menerbalikkan monumen salib di puncak Gunung Tapyas seperti yang diceritakan Jojo kepada kami sebelumnya; yang meluluhlantakkan Coron. Akses terputus, Coron lumpuh.

‘Namun,’ nada suara Nash terdengar bersemangat, ‘kami berhasil menghidupkan kembali Coron dalam waktu 1,5 bulan!’ Jojo, Francis, dan awak lain yang mendengar itu mengangguk. Penduduk Coron bersatu padu kembali membangun Coron. ‘Hal yang pertama kami bersihkan bersama-sama adalah laut.’

‘Kenapa?’

‘Bagi kami di Coron, laut adalah hidup.’ Tak ada keraguan dalam nada suara Nash. Mereka memandang biru laut yang membentang, yang mereka sebut sebagai ‘hidup’. Mereka menyingkirkan sampah-sampah dan puing-puing yang tersebar di laut akibat topan. Selain agar pariwisata yang menjadi tulang punggung perekonomian kembali bisa berjalan, mereka tahu jika laut tak segera dibersihkan ini akan berdampak tidak baik bagi Coron. ‘Belum lagi di Coron, kami mendukung eco-tourism—ekowisata. Laut harus bersih.’ Nash menekankan. Tak heran, di kapal, mereka menyiapkan air galon untuk minum dan menyarankan mengisi ulang botol air minum mineral kami. Plastik digunakan seminimal mungkin di kapal.

Salib dan tulisan Coron yang ikonik di atas gunung Tapyas (Foto: @AriAmphibia)

Coron dan orang-orangnya punya semua yang dibutuhkan oleh sebuah destinasi wisata untuk berkembang. Alam yang indah hanya akan berakhir menjadi dokumentasi visual cantik tanpa cerita-cerita menarik yang mereka sampaikan. Tak hanya giat bercerita, mereka, seperti yang sudah saya sampaikan, juga gemar melontarkan bayolan yang membuat pelayaran panjang sekalipun tak terasa membosankan. Dan yang terpenting—ini yang membuat saya angkat topi—kesadaran merawat Coron dengan mengembangkan ekowisata, sebuah kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan.

Alam bawah laut Coron (Foto: @AriAmphibia)
Alam bawah laut Coron (Foto: @AriAmphibia)

Warisan dari sebuah perjalanan di Coron adalah kenangan baik. Kalau ditanya apa yang saya ingat tentang kepulauan di Filipina ini, tak bisa tidak adalah orang-orangnya. For me, it’s more fun in Philippines because of the people. ( 13 )

Tentang Kontributor – Windy Ariestanty adalah penulis dan editor yang suka melakukan perjalanan. Ia dikenal sebagai penulis perjalanan bergaya naratif. Karya-karyanya telah terbit dalam bentuk buku maupun artikel-artikel di majalah-majalah papan atas di Indonesia. Selain itu Windy juga aktif menggelar kelas-kelas penulisan kreatif hingga ke pelosok-pelosok Indonesia. Sehari-hari ia aktif bercerita di instagram @windy_ariestanty, twitter @windyariestanty, dan blog windyariestanty.com

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *